ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. LATAR BELAKANG PENULISAN

Dalam kehidupan kita tentu tidak lepas dari masalah kesehatan. Masalah kesehatan yang dihadapi tentunya harus memiliki manajemen yang baik. Dan dalam hal ini, pemerintah turut campur tangan di bawahi oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes). Sebagai suatu lembaga yang mengatur jalannya sistem kesehatan di Indonesia, Kementrian Kesehatan sangat bertanggung jawab akan hal ini. Kemenkes selaku pembuat kebijakan kesehatan juga perlu melakukan analisis terhadap setiap kebijakan kesehatan yang dibuat supaya derajat kesehatan di Indonesia lebih terarah untuk mencapai Indonesia Sehat. Lebih lanjut penjelasan mengenai “Analisis Kebijakan Kesehatan”, akan dibahas dalam makalah ini.

1.2. TUJUAN PENULISAN

Makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai pemenuhan tugas kelompok Dasar AKK. Selain itu juga, agar para pembaca sekalian dapat menambah pengetahuan dalam lingkup Dasar Administrasi Kebijakan Kesehatan khususnya mengenai Analisis Kebijakan Kesehatan.

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. PENGERTIAN ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN

Analisis Kebijakan Kesehatan, terdiri dari 3 kata yang mengandung arti atau dimensi yang luas, yaitu analisa atau analisis, kebijakan, dan kesehatan.

Analisa atau analisis, adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (seperti karangan, perbuatan, kejadian atau peristiwa) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, sebab musabab atau duduk perkaranya (Balai Pustaka, 1991).

Kebijakan merupakan suatu rangkaian alternative yang siap dipilih berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Kebijakan merupakan suatu hasil analisis yang mendalam terhadap berbagai alternative yang bermuara kepada keputusan tentang alternative terbaik[8]. Kebijakan  adalah rangkaian dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan kepemimpinan, dan cara bertindak (tentag organisasi, atau pemerintah); pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran tertentu. Contoh: kebijakan kebudayaan, adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar rencana atau aktifitas suatu negara untuk mengembangkan kebudayaan bangsanya. Kebijakan Kependudukan, adalah konsep dan garis besar rencana suatu pemerintah untuk mengatur atau mengawasi pertumbuhan penduduk dan dinamika penduduk dalam negaranya (Balai Pustaka, 1991).[8]

Kebijakan berbeda makna dengan Kebijaksanaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1991), kebijaksanaan adalah kepandaian seseorang menggunakan akal budinya (berdasar pengalaman dan pangetahuannya); atau kecakapan bertindak apabila menghadapi kesulitan.[11] Kebijaksanaan berkenaan dengan suatu keputusan yang memperbolehkan sesuatu yang sebenarnya dilarang berdasarkan alasan-alasan tertentu seperti pertimbangan kemanusiaan, keadaan gawat dll. Kebijaksanaan selalu mengandung makna melanggar segala sesuatu yang pernah ditetapkan karena alasan tertentu.[8]

Menurut UU RI No. 23, tahun 1991, tentang kesehatan, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara soial dan ekonomi (RI, 1992).[9]  Pengertian ini cenderung tidak berbeda dengan yang dikembangkan oleh WHO, yaitu: kesehatan adalah suatu kaadaan yang sempurna yang mencakup fisik, mental, kesejahteraan dan bukan hanya terbebasnya dari penyakit atau kecacatan.[13] Menurut UU No. 36, tahun 2009 Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. [12]

Jadi, analisis kebijakan kesehatan adalah pengunaan berbagai metode penelitian dan argumen untuk menghasilkan dan memindahkan informasi yang relevan dengan kebijakan sehingga dapat dimanfaatkan ditingkat politik dalam  rangka memecahkan masalah kebijakan kesehatan.[5][6]

2.2. PERAN ANALISIS KEBIJAKAN

Analisis kebijakan kesehatan awalnya adalah hasil pengembangan dari analisis kebijakan publik. Akibat dari semakin majunya ilmu pengetahuan dan kebutuhan akan analisis kebijakan dalam bidang kesehatan itulah akhirnya bidang kajian analisis kebijakan kesehatan muncul.

Sebagai suatu bidang kajian ilmu yang baru, analisis kebijakan kesehatan memiliki peran dan fungsi dalam pelaksanaannya. Peran dan fungsi itu adalah:

  • Adanya analisis kebijakan kesehatan akan memberikan keputusan yang fokus pada  masalah yang akan diselesaikan.
  • Analisis kebijakan kesehatan mampu menganalisis multi disiplin ilmu. Satu disiplin kebijakan dan kedua disiplin ilmu kesehatan. Pada peran ini analisis kebijakan kesehatan menggabungkan keduanya yang kemudian menjadi sub kajian baru dalam khazanah keilmuan.
  • Adanya analisis kebijakan kesehatan, pemerintah mampu memberikan jenis tindakan kebijakan apakah yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah.
  • Memberikan kepastian dengan memberikan kebijakan/keputusan yang sesuai atas suatu masalah yang awalnya tidak pasti.
  • Dan analisis kebijakan kesehatan juga menelaah fakta-fakta yang muncul kemudian akibat dari produk kebijakan yang telah diputuskan/diundangkan. [1] [2]

2.3. PERUMUSAN MASALAH KEBIJAKAN

Masalah kebijakan, adalah nilai, kebutuhan atau kesempatan yang belum terpenuhi, tetapi dapat diindentifikasikan dan dicapai melalui tindakan publik. Tingkat kepelikan masalah tergantung pada nilai dan kebutuhan apa yang dipandang paling panting.

Staf puskesmas yang kuat orientasi materialnya (gaji tidak memenuhi kebutuhan), cenderung memandang aspek imbalan dari puskesmas sebagai masalah mandasar dari pada orang yang punya komitmen pada kualitas pelayanan kesehatan.

Menurut Dunn (1988) beberapa karakteristik masalah pokok dari masalah kebijakan, adalah:

  1. Interdepensi (saling tergantung), yaitu kebijakan suatu bidang (energi) seringkali mempengaruhi masalah kebijakan lainnya (pelayanan kesehatan). Kondisi ini menunjukkan adanya sistem masalah. Sistem masalah ini membutuhkan pendekatan Holistik, satu masalah dengan yang lain tidak dapat di piahkan dan diukur sendirian.
  2. Subjektif, yaitu kondisi eksternal yang menimbulkan masalah diindentifikasi, diklasifikasi dan dievaluasi secara selektif. Contoh: Populasi udara secara objektif dapat diukur (data). Data ini menimbulkan penafsiran yang beragam (a.l. gang-guan kesehatan, lingkungan, iklim, dll). Muncul situasi problematis, bukan problem itu sendiri.
  3. Artifisial, yaitu pada saat diperlukan perubahan situasi problematis, sehingga dapat menimbulkan masalah kebijakan.
  4. Dinamis, yaitu masalah dan pemecahannya berada pada suasana perubahan yang terus menerus. Pemecahan masalah justru dapat memunculkan masalah baru, yang membutuhkan pemecahan masalah lanjutan.
  5. Tidak terduga, yaitu masalah yang muncul di luar jangkauan kebijakan dan sistem masalah kebijakan.[3][10]

 

 

2.4. PENDEKATAN ANALISIS KEBIJAKAN

Upaya untuk menghasilk informasi dan argumen, analis kebijakan dapat menggunakan beberapa pendekatan, yaitu: pendekatan Empiris, Evaluatif, dan Normatif (Dunn, 1988).

  1. Pendekatan Empiris, memusatkan perhatian pada masalah pokok, yaitu apakah sesuatu itu ada (menyangkut fakta). Pendekatan ini lebih menekankan penjelasan sebab akibat dari kebijakan publik. Contoh, Analisis dapat menjelaskan atau meramalkan pembelanjaan negara untuk kesehatan, pendidikan, transportasi. Jenis informasi yang dihasilkan adalah Penandaan.
  2. Pendekatan evaluatif, memusatkan perhatian pada masalah pokok, yaitu berkaitan dengan penentuan harga atau nilai (beberapa nilai sesuatu) dari beberapa kebijakan. Jenis informasi yang dihasilkan bersifat Evaluatif. Contoh: setelah menerima informasi berbagai macam kebijakan KIA – KB, analis dapat mengevaluasi bermacam cara untuk mendistribusikan biaya, alat, atau obat-obatan menurut etika dan konsekuensinya.
  3. Pendekatan normatif, memusatkan perhatian pada masalah pokok, yaitu Tindakan apa yang semestinya di lakukan. Pengusulan arah tindakan yang dapat memecahkan masalah problem kebijakan, merupakan inti pendekatan normatif. Jenis informasi bersifat anjuran atau rekomendasi. Contoh: peningkatan pembayaran pasien puskesmas (dari Rp.300 menjadi Rp.1000) merupakan jawaban untuk mengatasi rendahnya kualitas pelayanan di puskesmas. Peningkatan ini cenderung tidak memberatkan masyarakat. [1][3]

Ketiga pendekatan di atas menghendaki suatu kegiatan penelitian dan dapat memanfaatkan berbagai pendekatan lintas disiplin ilmu yang relevan. Adapun model panelitian yang lazim digunakan adalah penelitian operasional, terapan atau praktis.

Pembuatan informasi yang selaras kebijakan (baik yang bersifat penandaan, evaluatif, dan anjuran) harus dihasilkan dari penggunaan prosedur analisis yang jelas (metode penelitian). Menurut Dunn (1988), dalam Analisis Kebijakan, metode analisis umum yang dapat digunakan, antara lain:

1)      Metode peliputan (deskripsi), memungkinkan analis menghasilkan informasi mengenai sebab akibat kebijakan di masa lalu.

2)      Metode peramalan (prediksi), memungkinkan analis menghasilkan informasi mengenai akibat kebijakan di masa depan.

3)      Metode evaluasi, pembuatan informasi mengenai nilai atau harga di masa lalu dan masa datang.

METODE ANALISIS UMUM

METODE ANALISIS KEBIJAKAN

Deskripsi

Prediksi

Evaluasi

Preskripsi

(petunjuk)

Perumusan Masalah

Peliputan (monitoring)

Peramalan (forecasting)

Evaluasi (evaluation)

Rekomendasi (recommendation)

Penyimpulan Praktis

(Practical inference)

Penyimpulan praktis, ditujukan untuk mencapai kesimpulan yang lebih dekat agar masalah kebijakan dapat dipecahkan. Kata Praktis, lebih ditekankan pada dekatnya hubungan kesimpulan yang diambil dengan nilai dan norma sosial. Pengertian ini lebih ditujukan untuk menjawab kesalahpahaman mengenai makna Rekomendasi yang sering diartikan pada informasi yang kurang operasional atau kurang praktis, masih jauh dari fenomena yang sesungguhnya.

Bila metode analisis kebijakan dikaitkan dengan pendekatan empiris, evaluatif, dan anjuran, maka metode analisis kebijakan dapat disusun menjadi 3 jenjang, yaitu:

1)      Pendekatan modus operandi, dapat menghasilkan informasi dan argumen dengan memanfaatkan 3 jenjang metode analisis, yaitu perumusan masalah, peliputan, dan peramalan.

2)      Pendekatan modus evaluatif, dapat menghasilkan informasi dan argumen dengan memanfaatkan 4 jenjang metode analisis, yaitu perumusan masalah, peliputan, peramalan, dan rekomendasi.

3)      Pendekatan modus anjuran, dapat menghasilkan informasi dan argumen dengan memanfaatkan seluruh (6) jenjang metode analisis, yaitu perumusan masalah, peliputan, peramalan, evaluasi, rekomendasi, dan peyimpulan praktis. [5][6]

2.5. ARGUMEN KEBIJAKAN

Analisis kebijakan tidak hanya sekedar menghimpun data dan menghasilkan informasi. Analisis kebijakan juga harus memanfaatkan atau memindahkan informasi sebagai bagian dari argumen yang bernalar mengenai kebijakan publik untuk mencari solusi masalah kebijakan publik. Menurut Dunn (1988) struktur argumen kebijakan menggambarkan bagaimana analis kebijakan dapat menggunakan alasan dan bukti yang menuntun kepada pemecahan masalah kebijakan.

Berdasarkan struktur argumen, dapat diketahui bahwa seorang analisis kebijakan dapat menempuh langkah yang benar, dengan memanfaatkan informasi dan berbagai metode menuju kepada pemecahan masalah kebijakan; dan tidak sekedar membenarkan alternatif kebijakan yang disukai. [5][6]

2.6. BENTUK ANALISIS KEBIJAKAN

Analisis kebijakan terdiri dari beberapa bentuk, yang dapat dipilih dan digunakan. Pilihan bentuk analisis yang tepat, menghendaki pemahaman masalah secara mendalam, sebab kondisi masalah yang cenderung menentukan bentuk analisis yang digunakan.

Berdasarkan pendapat para ahli (Dunn, 1988; Moekijat, 1995; Wahab, 1991) dapat diuraikan beberapa bentuk analisis kebijakan yang lazim digunakan.

2.6.1.   Analisis Kebijakan Prospektif

Bentuk analisis ini berupa penciptaan dan pemindahan informasi sebelum tindakan kebijakan ditentukan dan dilaksanakan. Menurut Wiliam (1971), ciri analisis ini adalah:

-          mengabungkan informasi dari berbagai alternatif yang tersedia, yang dapat dipilih dan dibandingkan.

-          diramalkan secara kuantitatif dan kualitatif untuk pedoman pembuatan keputusan kebijakan.

-          secara konseptual tidak termasuk pengumpulan informasi.

2.6.2.   Analisis Kebijakan Restrospektif (AKR)

Bentuk analisis ini selaras dengan deskripsi penelitian, dengan tujuannya adalah penciptaan dan pemindahan informasi setelah tindakan kebijakan diambil. Beberapa analisis kebijakan restropektif, adalah:

  1. Analisis berorientasi Disiplin, lebih terfokus pada pengembangan dan pengujian teori dasar dalam disiplin keilmuan, dan menjelaskan sebab akibat kebijakan. Contoh: Upaya pencarian teori dan konsep kebutuhan serta kepuasan tenaga kesehatan di Indonesia, dapat memberi kontribusi pada pengembangan manajemen SDM original berciri Indonesia (kultural). Orientasi pada tujuan dan sasaran kebijakan tidak terlalu dominan. Dengan demikian, jika ditetapkan untuk dasar kebijakan memerlukan kajian tambahan agar lebih operasional.
  2. Analisis berorientasi masalah, menitikberatkan pada aspek hubungan sebab akibat dari kebijakan, bersifat terapan, namun masih bersifat umum. Contoh: Pendidikan dapat meningkatkan cakupan layanan kesehatan. Orientasi tujuan bersifat umum, namun dapat memberi variabel kebijakan yang mungkin dapat dimanipulasikan untuk mencapai tujuan dan sasaran khusus, seperti meningkatnya kualitas kesehatan gigi anak sekolah melalui peningkatan program UKS oleh puskesmas.
  3. Analisis beriorientasi penerapan, menjelaskan hubungan kausalitas, lebih tajam untuk mengidentifikasi tujuan dan sasaran dari kebijakan dan para pelakunya. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil kebijakan khusus, merumuskan masalah kebijakan, membangun alternatif kebijakan yang baru, dan mengarah pada pemecahan masalah praktis. Contoh: analis dapat memperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan pelayanan KIA di Puskesmas. Informasi yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar pemecahan masalah kebijakan KIA di puskesmas.

2.6.3.   Analisis Kebijakan Terpadu

Bentuk analisis ini bersifat konprehensif dan kontinyu, menghasilkan dan memindahkan informasi gabungan baik sebelum maupun sesudah tindakan kebijakan dilakukan. Menggabungkan bentuk prospektif dan restropektif, serta secara ajeg menghasilkan informasi dari waktu ke waktu dan bersifat multidispliner.

Bentuk analisis kebijakan di atas, menghasilkan jenis keputusan yang relatif berbeda yang, bila ditinjau dari pendekatan teori keputusan (teori keputusan deksriptif dan normatif), yang dapat diuraikan sebagai berikut:

1)      Teori Keputusan Deskriptif, bagian dari analisis retrospektif, mendeskripsikan tindakan dengan fokus menjelaskan hubungan kausal tindakan kebijakan, setelah kebijakan terjadi. Tujuan utama keputusan adalah memahami problem kebijakan, diarahkan pada pemecahan masalah, namun kurang pada usaha pemecahan masalah.

2)      Teori Keputusan Normatif, memberi dasar untuk memperbaiki akibat tindakan, menjadi bagian dari metode prospektif (peramalan atau rekomendasi), lebih ditujukan pada usaha pemecahan masalah yang bersifat praktis dan langsung. [5][6]

2.7.   PERANAN POLITIK

Analisis kebijakan merupakan proses kognitif. Pembuatan kebijakan merupakan proses Politik. Dengan demikian Informasi yang dihasilkan belum tentu digunakan oleh pengambilan kebijakan.

Seorang analis harus aktif sebagai agen perubahan, paham struktur politik, berhubungan dengan orang yang mempengaruhi kebijakan yang dibuat, membuat usulan yang secara politis dapat diterima pengambil kebijakan, kelompok sasaran, merencanakan usulan yang mengarah kepada pelaksanaan.

Analis hanya satu dari banyak pelaku kebijakan, dengan pelaku kebijakan merupakan salah satu elemen sistem kebijakan. Dunn (1988) menjelaskan adanya 3 elemen dalam sistem kebijakan, yang satu sama lain mempunyai hubungan.

Dapat dijelaskan bahwa 3 elemen sistem kebijakan saling berhubungan:

1)      Kebijakan publik, merupakan serangkaian pilihan yang dibuat atau tidak dibuat oleh badan atau kantor pemerintah, dipengaruhi atau mempengaruhi lingkungan kebijakan dan kebijakan publik.

2)      Pelaku kebijakan, adalah kelompok masyarakat, organisasi profensi, partai politik, berbagai badan pemerintah, wakil rakyat, dan analis kebijakan yang dipengaruhi atau mempengaruhi pelaku kebijakan dan kebijakan publik.

3)      Lingkungan kebijakan, yakni suasana tertentu tempat kejadian di sekitar isu kebijakan itu timbul, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pelaku kebijakan dan kebijakan publik.

Berdasarkan uraian di atas, maka seorang analis kebijakan dapat dikategorikan sebagai aktor kebijakan yang menciptakan dan sekaligus menghasilkan sistem kebijakan, disamping aktor kebijakan yang lainnya. [5][6]

 

2.8.   SISTEM KESEHATAN

Sebelum melakukan analisis kebijakan kesehatan perlu dipahami terlebih dahulu mengenai sistem kesehatan. Bagaimana pengambilan kebijakan dibidang kesehatan.

 

2.9. KEBIJAKAN KESEHATAN DI INDONESIA

2.9.1. Isu strategis

►       Pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu belum optimal

►       Sistem perencanaan dan penganggaran departemen kesehatan belum optimal

►       Standar dan pedoman pelaksanaan pembangunan kesehatan masih kurang memadai

►       Dukungan departemen kesehatan untuk melaksanakan pembangunan kesehatan masih terbatas.

2.9.2. Strategi kesehatan di Indonesia

►       Mewyjudkan komitmen pembangunan kesehatan

►       Meningkatkan pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan

►       Membina sistem kesehatan dan sistem hukum di bidang kesehatan

►       Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan

►       Melaksanakan jejaring pembangunan kesehatan

2.9.3. Kebijakan program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat

►       Pengembangan media promosi kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)

►       Pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat dan generasi muda

►       Peningkatan pendidikan kesehatan kepada masyarakat

2.9.4. Kebijakan program lingkungan sehat

►       Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar

►       Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan

►       Pengendalian dampak resiko pencemaran lingkungan

►       Pengembangan wilayah sehat

2.9.5. Kebijakan program upaya kesehatan dan pelayanan kesehatan

►       Pelayanan kesehatan penduduk miskin di puskesmas dan jaringannya

►       Pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya

►       Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obat generik esensial

►       Peningkatan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup sekurang-kurangnya promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana

►       Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan

2.9.6. Kebijakan program upaya kesehatan perorangan

►       Pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin kelas III RS

►       Pembangunan sarana dan parasarana RS di daerah tertinggal secara selektif

►       Perbaikan sarana dan prasarana rumah sakit

►       Pengadaan obat dan perbekalan RS

►       Peningkatan pelayanan kesehatan rujukan

►       Pengembangan pelayanan kedokteran keluarga

►       Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan

2.9.7. Kebijakan program pencegahan dan pemberantasan penyakit

►       Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko

►       Peningkatan imunisasi

►       Penemuan dan tatalaksana penderita

►       Peningkatan surveilans epidemologi

►       Peningkatan KIE pencegahan dan pemberantasan penyakit

2.9.8. Kebijakan program perbaikan gizi masyarakat

►       Peningkatan pendidikan gizi

►       Penangulangan KEP, anemia gizi besi, GAKI, kurang vitamin A, kekuarangan zat gizi mikro lainnya

►       Penanggulangan gizi lebih

►       Peningkatan surveilans gizi

►       Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi

2.9.9. Kebijakan program sumber daya kesehatan

►   Peningkatan mutu penggunaan obat dan perbekalan kesehatan

►   Peningkatan keterjangkauan harga obat dan perbekalan kesehatan terutama untuk penduduk miskin

►   Peningkatan mutu pelayanan farmasi komunitas dan rumah sakit

2.9.10. Kebijakan program kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan

►   Pengkajian dan penyusunan kebijakan

►   Pengembangan sistem perencanaan dan pengangaran, pelaksanaan dan pengendalian, pengawasan dan penyempurnaan administrasi keuangan, serta hukum kesehatan

►   Pengembangan sistem informasi  kesehatan

►   Pengembangan sistem kesehatan daerah

►   Peningkatan jaminan pembiayaan kesehatan

2.9.11. Kebijakan program penelitian dan pengembagan kesehatan

►   Penelitian dan pengembangan

►   Pengembangan tenaga, sarana dan prasarana penelitian

►   Penyebarluasan dan pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan[4][7]

BAB III

PENUTUP

3.1.   KESIMPULAN

Analisis kebijakan kesehatan adalah pengunaan berbagai metode penelitian dan argumen untuk menghasilkan dan memindahkan informasi yang relevan dengan kebijakan sehingga dapat dimanfaatkan ditingkat politik dalam  rangka memecahkan masalah kebijakan kesehatan.

Sebagai suatu bidang kajian ilmu yang baru, analisis kebijakan kesehatan memiliki peran dan fungsi dalam pelaksanaannya.

Menurut Dunn (1988) beberapa karakteristik masalah pokok dari masalah kebijakan, adalah Interdepensi (saling tergantung), Subjektif, Artifisial, Dinamis dan Tidak terduga.

Upaya untuk menghasilk informasi dan argumen, analis kebijakan dapat menggunakan beberapa pendekatan, yaitu: pendekatan Empiris, Evaluatif, dan Normatif (Dunn, 1988).

Metode analisis kebijakan, yaitu Metode peliputan (deskripsi), Metode peramalan (prediksi) dan Metode evaluasi. 3 jenjang Metode analisis kebijakan, yaitu Pendekatan modus operandi, Pendekatan modus evaluative dan Pendekatan modus anjuran.

Analisis kebijakan tidak hanya sekedar menghimpun data dan menghasilkan informasi. Analisis kebijakan juga harus memanfaatkan atau memindahkan informasi sebagai bagian dari argumen yang bernalar mengenai kebijakan publik untuk mencari solusi masalah kebijakan publik. Menurut Dunn (1988) struktur argumen kebijakan menggambarkan bagaimana analis kebijakan dapat menggunakan alasan dan bukti yang menuntun kepada pemecahan masalah kebijakan.

Bentuk analisis kebijakan yang lazim digunakan, yaitu Analisis Kebijakan Prospektif, Analisis Kebijakan Restropektif (AKR) dan Analisis Kebijakan Terpadu.

Dunn (1988) menjelaskan adanya 3 elemen dalam sistem kebijakan, yang satu sama lain mempunyai hubungan, yaitu Kebijakan public, Pelaku kebijakan dan Lingkungan kebijakan.

Sebelum melakukan analisis kebijakan kesehatan perlu dipahami terlebih dahulu mengenai sistem kesehatan. Bagaimana pengambilan kebijakan dibidang kesehatan.

Kebijakan kesehatan di Indonesia, yaitu Kebijakan program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, Kebijakan program lingkungan sehat, Kebijakan program upaya kesehatan dan pelayanan kesehatan, Kebijakan program upaya kesehatan perorangan, Kebijakan program pencegahan dan pemberantasan penyakit, Kebijakan program perbaikan gizi masyarakat, Kebijakan program sumber daya kesehatan, Kebijakan program kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan dan Kebijakan program penelitian dan pengembagan kesehatan.

3.2.SARAN

Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dalam masalah kesehatan, disarankan dilakukan dahulu analisis kebijakan kesehatan. Dengan demikian, dapat memberikan keputusan yang fokus pada  masalah yang akan diselesaikan.

DAFTAR PUSTAKA

[1]AnneAhira.com. Konsep dan Implementasi Analisis Kebijakan Kesehatan (online) http://www.AnneAhira.com/artikel/analisis-kebijakan-kesehatan.html. Minggu, 13 Maret 2011 pkl 18.52

[2]Arif Kurniawan. Kebijakan Kesehatan (online) http://images.albadroe.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/Rt5PkgoKCsAAABj74Sc1/kebijakan%20kesehatan.ppt?nmid=56606948. Minggu, 13 Maret 2011 pkl 14.45

[3]Ayun Sriatmi. Sejarah analisis kebijakan dan kerangka analisis kebijakan (online) http://eprints.undip.ac.id/6256/1/Kerangka_analisis_kebijakan_-_ayun_sriatmi.pdf Senin, 14 maret 2011 pukul 14.01

[4] Departemen Kesehatan RI. 2009. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta : Departemen Kesehatan RI

[5] Dunn WN. 1988. Analisa Kebijaksanaan Publik. Yogyakarta : PT. Hanindita

[6] Dunn WN. 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

[7]Juanita. Kesehatan dan Pembangunan Nasional (online) http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3737/1/fkm-juanita2.pdf Jumat, 4 Maret 2011 pkl 18.59

[8] Pasolong Harbani. 2010. Teori Administrasi Publik. Bandung : Alfabeta

[9] Republik Indonesia. 1992. Undang-Undang No. 23 tahun 1992, tentang Kesehatan. Penerbit Sinar Grafika 1992

[10] Siagian SP. 1985. Analisis Serta Perumusan Kebijaksanaan Dan Strategi Organisasi. Jakarta : PT. Gunung Agung

[11]Surya Utama. Dasar-Dasar Analisis Kebijakan Kesehatan (online) http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3765/1/fkm-surya4.pdf. Jumat, 11 Maret 2011 pkl 15.31

[12] Tim Redaksi Pustaka Yustisia. 2010. Undang-Undang Kesehatan dan Rumah Sakit 2009. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Yustisia

[13] Tulchinsky Ted., Varavikova Elena. The New Public Health (text book)

CHILOPODA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Kata Arthropoda dari bahasa Yunani yaitu Arthros berarti sendi (ruas) dan podos berarti kaki. Jadi Arthropoda adalah hewan yang mempunyai kaki bersendi-sendi (beruas-ruas). Hewan ini banyak ditemukan di darat, air tawar, dan laut, serta di dalam tanah. Hewan ini juga merupakan hewan yang paling banyak jenis atau macam spesiesnya, lebih kurang 75% dari jumlah keseluruhan spesies hewan di dunia yang telah diketahui. Berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya, Arthropoda dikelompokkan menjadi 4 kelas, yaitu:

1. Kelas Crustacea (golongan udang).

2. Kelas Arachnida (golongan kalajengking dan laba-laba).

3. Kelas Myriapoda (golongan luwing).

4. Kelas Insecta (serangga)

Pada makalah ini selanjutnya kami akan membahas mengenai Kelas Myriapoda, khususnya pada subkelas Chilopoda.

 

1.2.Tujuan Penulisan

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah Parasitologi tentang Subkelas Chilopoda. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk manambah wawasan kita tentang Filum Arthropoda kelas Myriapoda, khususnya Subkelas Chilopoda.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Chilopoda

Chilopoda adalah Ordo dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Myriapoda.  Hewan ini tergolong hewan pemangsa (predator), makanannya adalah cacing dan serangga. Bentuk tubuhnya pipih, jumlah segmen bisa mencapai 177, setiap segmen mempunyai sepasang kaki, kecuali pada satu segmen di belakang kepala dan dua segmen terakhir. Pada bagian kepala terdapat sepasang mata. Masing-masing mata mengalami modifikasi menjadi cakar beracun.

2.2. Morfologi Chilopoda

Berikut adalah morfologi Chilopoda:

  1. Tubuh agak gepeng,
  2. Terdiri atas kepala dan badan yang beruas-ruas (15-173 ruas).
  3.  Tiap ruas memiliki satu pasang kaki, kecuali ruas (segmen) di belakang kepala dan dua segmen terakhirnya.
  4. Pada segmen di belakang kepala terdapat satu pasang “taring bisa” (maksiliped) yang berfungsi untuk membunuh mangsanya.
  5. Pada kepala terdapat sepasang antena panjang yang terdiri atas 12 segmen, dua kelompok mata tunggal dan mulut.

 

2.3. Habitat

Hewan ini banyak dijumpai di daerah tropis dengan habitat di darat. Terutama di tempat yang banyak mengandung sampah, misalnya di kebun dan di bawah batu-batuan. Habitatnya juga di bawah batu-batuan/timbunan tumbuhan yang telah membusuk. Kelas ini sering disebut Sentipedes.
Bergerak cepat dan predator. Adakalanya merayap ke dalam ruang di lokasi tersembunyi. Lebih menyukai tempat yang lembab. Mudah kehilangan air jika mereka tidak memiliki kutikula lilin. Biasanya ditemukan di luar ruangan, tapi dapat merayap ke dalam ruangan

2.4. Sistem organ

2.4.1. Sistem pernapasan

Respirasi (pernafasan) dengan trakea yang bercabang-cabang dengan lubang yang terbuka hampir pada setiap ruas, berupa satu pasang trakea berspirakel yang terletak di kanan kiri setiap ruas.

2.4.2. Sistem pencernaan

Alat pencernaan makanannya sudah sempurna artinya dari mulut sampai anus dan mempunyai kelenjar ludah.. Alat eksresi berupa dua buah saluran malphigi. Chilopoda bersifat karnivor dengan gigi beracun pada segmen I.

2.4.3. Sistem reproduksi

Secara seksual, yaitu dengan pertemuan ovum dan sperma (fertilasi internal).

2.5. Makanan

Lipan adalah predator dan akan membunuh dan mengkonsumsi berbagai invertebrata lainnya seperti laba-laba, moluska, serangga, slaters dan kelabang lainnya. Bila bertemu mangsanya, lipan akan menyerang mangsanya dengan cara menggigit menggunakan kaki beracun yang berguna untuk melumpuhkan mangsa. Mangsa biasanya bergerak kemudian racun disuntikkan melalui taring dan kemudian dirobek-potong oleh rahang dan bagian-bagian lunak dimakan.

2.6. Jenis-jenis Chilopoda

Chilopoda beranggotakan:

  1. Scolopendromorpha
  2. Lithobiomorpha
  3. Scutigeromorpha
  4. Geophilomorpha

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Chilopoda adalah Ordo dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Myriapoda.  Hewan ini tergolong hewan pemangsa (predator), makanannya adalah cacing dan serangga.

Lipan atau kelabang bila bertemu mangsanya akan menyerang mangsanya dengan cara menggigit menggunakan kaki beracun yang berguna untuk melumpuhkan mangsa.

Subkelas Chilopoda yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Mencakup berbagai macam lipan (kelabang) yang memiliki panjang hingga 26 cm
  • Chilopoda memangsa hewan kecil dengan cara melumpuhkannya dengan gigi yang beracun.
  • Tubuh agak gepeng,
  • terdiri atas kepala dan badan yang beruas-ruas (15-173 ruas).
  • Tiap ruas memiliki satu pasang kaki, kecuali ruas (segmen) di belakang kepala dan dua segmen terakhirnya.
  • Pada segmen di belakang kepala terdapat satu pasang “taring bisa” (maksiliped)
  • Maksiliped berfungsi untuk membunuh mangsanya.
  • Pada kepala terdapat sepasang antena panjang yang terdiri atas 12 segmen, dua kelompok mata tunggal dan mulut.
  • Hewan ini memangsa hewan kecil berupa insecta, mollusca, cacing dan binatang kecil lainnya, sehingga bersifat karnivora.
  • Alat pencernaan makanannya sudah sempurna artinya dari mulut sampai
    anus. Alat eksresi berupa dua buah saluran malphigi.
  • Respirasi (pernafasan) dengan trakea yang bercabang-cabang dengan
    lubang yang terbuka hampir pada setiap ruas.
  • Habitat di bawah batu-batuan/timbunan tumbuhan yang telah membusuk.
    Kelas ini sering disebut Sentipedes.
  • Sistem reproduksi secara seksual, yaitu dengan pertemuan ovum dan sperma (fertilasi internal).

DAFTAR PUSTAKA

URL : http://merpatipos.com/arthropoda/

URL : http://merpatipos.com/tag/lipan/

URL : http://cavefauna.wordpress.com/taxonomy/chilopoda/

URL : http://www.ento.csiro.au/education/allies/chilopoda.html

URL : http://www.putrafajar.com/2011/03/lipan-chilopoda.html

TREMATODA HATI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Trematoda adalah cacing yang secara morfologi berbentuk pipih seperti daun. Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit, kecuali genus Schistosoma. Pada dasarnya daur hidup trematoda ini melampui beberapa beberapa fase kehidupan dimana dalam fase tersebut memerlukan hospes intermedier untuk perkembangannya. Fase daur hidup tersebut adalah sebagai berikut:

Telur—meracidium—sporocyst—redia—cercaria—metacercaria—cacing dewasa.

Dimana fase daur hidup tersebut sedikit berbeda untuk setiap spesies cacing trematoda.

Menurut lokasi berparasitnya cacing trematoda dikelompokkan sbagai berikut:

1)         Trematoda pembuluh darah

2)         Trematoda paru

3)         Trematoda usus

4)         Trematoda hati

Lebih lanjut, dalam makalah ini akan dibahas mengenai jenis Trematoda Hati.

1.2. Tujuan Penulisan

Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah Parasitologi. Selain itu, makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan pembaca mengenai Trematoda, khususnya Trematoa Hati.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Clonorchis sinensis (Opisthorchis sinensis)

Kingdom             : Animalia
Phylum                : Platyhelminthes
Kelas                    : Trematoda
Ordo                    : Opisthorchiida
Family                  : Opisthorchiidae
Genus                  : Clonorchis
Spesies                 : Clonorchis sinensis

Clonorchis sinensis, yang kebetulan hati Cina, adalah hati manusia kebetulan di kelas Trematoda , Phylum Platyhelminthes . Ini parasit tinggal di hati manusia, dan ditemukan terutama di umum saluran empedu dan kantong empedu , makan pada empedu . Hewan ini, yang diyakini menjadi lazim parasit cacing yang paling ketiga di dunia, adalah endemik untuk Jepang , Cina , Taiwan , dan Asia Tenggara , saat ini menginfeksi suatu manusia diperkirakan 30.000.000. sinesnsis Clonorchis adalah parasit opisthorchid trematoda yang menginfeksi kucing dan manusia di negara-negara tropis dan subtropis di Asia.

2.1.1. Siklus Hidup & Morfologi

Clonorchis sinensis dewasa memiliki bagian-bagian tubuh utama: pengisap oral, faring, usus buntu, pengisap ventral, vitellaria, rahim, ovarium, ‘kelenjar Mehlis , testis, kandung kemih exretory.

Telur dari Clonorchis sinensis (umumnya: manusia), yang berisi mirasidium yang berkembang ke dalam bentuk dewasa, mengapung di air tawar sampai dimakan oleh siput.

2.1.1.1. Hospes Perantara Pertama

Siput air tawar Parafossarulus manchouricus – sinonim: striatulus Parafossarulus, sering berfungsi sebagai hospes perantara pertama untuk sinensis Clonorchis di Cina, Jepang, Korea dan Rusia.

Host bekicot lain termasuk:

Begitu berada di dalam tubuh siput, mirasidium yang menetas dari telur, dan tumbuh secara parasit dalam siput. mirasidium ini berkembang menjadi sebuah sporosit, yang pada gilirannya memondokkan reproduksi aseksual dari redia, tahap berikutnya. Para redia sendiri memondokkan reproduksi aseksual cercaria berenang bebas. Sistem reproduksi aseksual memungkinkan untuk persilangan eksponensial individu cercaria dari satu mirasidium. Ini membantu para Clonorchis dalam reproduksi, karena memungkinkan mirasidium untuk memanfaatkan satu kesempatan pasif dimakan oleh siput sebelum telur mati.

Setelah redia dewasa, yang tumbuh di dalam tubuh bekicot sampai saat ini, mereka secara aktif menanggung keluar dari tubuh siput ke lingkungan air tawar.

2.1.1.2. Hospes perantara Kedua

Di sana, sebagai ganti menunggu untuk dikonsumsi oleh hospes (seperti yang terjadi dalam tahap telur mereka), mereka mencari ikan. Bosan dengan cara mereka masuk ke dalam tubuh ikan, mereka kembali menjadi parasit hospes baru mereka.

Setelah masuk dari otot ikan, cercaria yang membuat kista metacercarial pelindung yang dapat digunakan untuk mengenkapsulasi tubuh mereka. Kista pelindung ini terbukti bermanfaat ketika otot ikan dikonsumsi oleh manusia.

2.1.1.3. Hospes Definitif

Kista tahan asam memungkinkan metaserkaria untuk menghindari dicerna oleh asam lambung manusia, dan memungkinkan metaserkaria untuk mencapai usus kecil terluka. Mencapai usus kecil, metaserkaria yang menavigasi ke hati manusia, yang menjadi habitat akhir. Pakan Clonorchis pada empedu manusia diciptakan oleh hati . Dalam hati manusia, Clonorchis mencapai tahap yang matang dari reproduksi seksual . Orang-orang dewasa hermafroditik menghasilkan telur setiap 1-30 detik, sehingga perbanyakan cepat penduduk di hati.

Penjelasan singkat :

Telur – Larva Mirasidium – Sporokista – Larva (II) : Redia – Larva (III) : Serkaria -Larva(IV) : Metaserkaria, masuk ke dalam tubuh Ikan kemudian termakan oleh Orang Cacing dewasa, menyebabkan Clonorchiasis.

Morfologi
Telur  :

  1. Bentuk seperti botol ukuran 25–30µm
  2. warna kuning kecoklatan
  3. Kulit halus tetapi sangat tebal
  4. Pd bagian ujung yg meluas terdapat tonjolan
  5. Berisi embrio yg bersilia (miracidium)
  6. Operculum mudah terlihat
  7. infektif untuk siput air

Cacing Dewasa :

  1. Ukuran 12 – 20 mm x 3 – 5 mm
  2. Ventral sucker < oral sucker
  3. Usus (sekum) panjang dan mencapai bag. Posterior tubuh
  4. Testis terletak diposterior tubuh & keduanya mempunyai lobus
  5. Ovarium kecil terletak   ditengah (anterior dari testis)

2.1.2. Patologi dan Gejala Klinis

      Perubahan patologi terutama terjadi pada sel epitel saluran empedu. Pengaruhnya terutama bergantung pada jumlah cacing dan lamanya menginfeksi, untungnya jumlah cacing yang menginfeksi biasanya sedikit. Pada daerah endemik jumlah cacing yang pernah ditemukan sekitar 20-200 ekor cacing. Infeksi kronis pada saluran empedu menyebabkan terjadinya penebalan epithel empedu sehingga dapat menyumbat saluran empedu. Pembentukan kantong-kantong pada saluran empedu dalam hati dan jaringan parenchym hati dapat merusak sel sekitarnya. Adanya infiltrasi telur cacing yang kemudian dikelilingi jaringan ikat menyebabkan penurunan fungsi hati.

Gejala asites sering ditemukan pada kasus yang berat, tetapi apakah ada hubungannya antara infeksi C. sinensis dengan asites ini masih belum dapat dipastikan. Gejala joundice (penyakit kuning) dapat terjadi, tetapi persentasinya masih rendah, hal ini mungkin disebabkan oleh obstruksi saluran empedu oleh telur cacing. Kejadian kanker hati sering dilaporkan di Jepang, hal ini perlu penelitioan lebih jauh apakah ada hubungannya dengan penyakit Clonorchiasis.

Cacing ini menyebabkan iritasi pd saluran empedu dan penebalan dinding saluran dan Perubahan jaringan hati yang berupa radang sel hati
Gejala dibagi 3 stadium:

-          stadium ringan tidak ada gejala

-          stadium progresif ditandai dengan menurunnya nafsu makan,
diare, edema, dan pembesaran hati

-          stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal terdiri
dari pembesaran hati, edema, dan kadang-kadang menimbulkan
keganasan dlm hati, dapat menyebabkan kematian

2.1.3. Diagnosa

Diagnosa didasarkan pada isolasi feses telur C. sinensis bersama dengan adanya tanda-tanda pankreatitis atau primary. Beberapa kucing mungkin menunjukkan penyakit kuning dalam kasus-kasus lanjutan dengan parasit beban berat. Sejumlah cacing hati lain yang mempengaruhi kucing, seperti viverrini Opisthorchis , dan felineus Opisthorchis , dapat dibedakan dengan pemeriksaan miscoscopic atau yang lebih baru tes PCR.

Konfirmasi biasanya dibuat pada laparotomi eksplorasi dan visualisasi cacing dalam pohon bilier atau kandung empedu dari kucing yang terkena dampak.

2.1.4. Pengobatan

Pengobatan untuk parasit ini adalah sama dengan trematoda lainnya, terutama melalui penggunaan praziquantel sebagai obat pilihan pertama. Obat diberikan pada 5 mg / kg stat, atau mingguan. Obat yang digunakan untuk mengobati infestasi mencakup triclabendazole , praziquantel , bithionol , Albendazole dan mebendazol.

2.2. Fasciola hepatica (Cacing Hati)

Kingdom : Animalia

Phylum    : Platyhelminthes

Kelas        : Trematoda

Ordo        : Echinostomida

Genus      : Fasciola

Spesies     : Fasciola Hepatica

2.2.1. Siklus Hidup

Hospes Definitif   : Manusia, kambing dansapi

Hospes Perantara  : I. Keong air (Lymnea)  II. Tanaman air

Nama penyakit      : fasioliasis

 

Cacing ini tidak mempunyai anus dan alat ekskresinya berupa sel api. Cacing ini bersifat hemaprodit, berkembang biak dengan cara pembuahan sendiri atau silang, jumlah telur yang dihasilkan sekitar 500.000 butir. Hati seekor domba dapat mengandung 200 ekor cacing atau lebih. Karena jumlah telurnya sangat banyak, maka akan keluar dari tubuh ternak melalui saluran empedu atau usus bercampur kotoran. Jika ternak tersebut mengeluarkan kotoran, maka telurnya juga akan keluar, jika berada di tempat yang basah, maka akan menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Larva tersebut akan berenang, apabila bertemu dengan siput Lymnea auricularis akan menempel pada mantel siput. Di dalam tubuh siput, silia sudah tidak berguna lagi dan berubah menjadi sporokista. Sporokista dapat menghasilkan larva lain secara partenogenesis yang disebut redia yang juga mengalami partenogensis membentuk serkaria. Setelah terbentuk serkaria, maka akan meninggalkan tubuh siput dan akan berenang sehingga dapat menempel pada rumput sekitar kolam/sawah. Apabila keadaan lingkungan tidak baik, misalnya kering maka kulitnya akan menebal dan akan berubah menjadi metaserkaria. Pada saat ternak makan rumput yang mengandung metaserkaria, maka sista akan menetas di usus ternak dan akan menerobos ke dalam hati ternak dan berkembang menjadi cacing muda, demikian seterusnya.

Penjelasan Singkat

Telur –> Larva Mirasidium masuk ke dalam tubuh siput Lymnea –> Sporokista –> berkembang menjadi Larva (II) : Redia –> Larva (III) : Serkaria yang berekor, kemudian keluar dari tubuh keong –> Kista yang menempel pada tetumbuhan air (terutama selada air –> Nasturqium officinale) kemudian termakan hewan ternak (dapat tertular ke orang, apabila memakan selada air) –> masuk ke tubuh dan menjadi Cacing dewasa menyebabkan Fascioliasis.

Ciri-ciri morfologi Fasciola hepatica

  • Bersifat hermaprodit.
    • Sistem reproduksinya ovivar. Bentuknya menyerupai daun berukuran 20 – 30 mm x 8 – 13 mm.
    • Mempunyai tonjolan konus (cephalis cone) pada bagian anteriornya.
    • Memiliki batil isap mulut dan batil isap perut.
    • Uterus pendek berkelok-kelok.
      • Testis bercabang banyak, letaknya di pertengahan badan berjumlah 2 buah

 

2.2.2. Patologi dan Gejala klinis

Terjadi sejak larva masuk kesaluran empedu sampai menjadi dewasa. Parasit ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan dinding saluran. Selain itu, dapat terjadi perubahan jaringan hati berupa radang sel hati. Pada keadaan lebih lanjut dapat timbul sirosis hati disertai asites dan edema. Luasnya organ yang mengalami kerusakan bergantung pada jumlah cacing yang terdapat disaluran empedu dan lamanya infeksi gejala dari penyakit fasioliasis biasanya pada stadium ringan tidak ditemukan gejala. Stadium progresif ditandai dengan menurunnya nafsu makan, perut terasa penuh, diare dan pembesaran hati. Pada stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal yang terdiri dari perbesaran hati, ikterus, asites, dan serosis hepatis.

2.2.3. Pengobatan dan Pencegahan

Pengobatan yang dapat diberikan antara lain:

  • Heksakloretan
  • Heksaklorofan
  • Rafoxamide
  • Niklofolan
  • Bromsalan yang disuntikkan di bawah kulit

Cara-cara pencegahan

  • Tidak memakan sayuran mentah.
  • Pemberantasan penyakit fasioliasis pada hewan ternak.
    • Kandang harus dijaga tetap bersih, dan kandang sebaiknya tidak dekat kolam atau selokan.
    • Siput-siput disekitar kandang dimusnakan untuk memutus siklus hidup Fasciola hepatica.

2.3. Opistorchis felineus

Klasifikasi

Kelas        : Trematoda

Ordo        : Prosostomata

Famili       : Opistorchoidae

Genus      : Opistorchis

2.3.1. Penyebaran

Ditemukan di Eropa Tengah, Siberia dan Jepang. Parasit ini ditemukan pada manusia di Prusia, Polandia dan Siberia ditemukan di Jepang yang bukan daerah endemik Clonorchiasis.

Cacing dewasa panjangnya kira-kira 1 cm hidup dalam saluran empedu dan hati manusia serta kucing. Telur besarnya kira-kira 30 mikron.

Siklus hidup patologi dan klinik diagnose dan pengobatannya hamper sama dengan C. sinensis.

Hospes definitifnya manusia dan hosper reservoarnya adalah kucing, anjing, babi dan serigala.

Daur hidup

Telur bermirasidium dalam proses  à hospes perantaran I (menetas keluar mirasidiumnya) à redia (serkaria) à hospes perantara II (metaserkaria) à Manusia (terjadi eksistasio di dalam usus) à terus kesaluran  empedu à hati à dewasa.

Hospes perantara pertama :  siput air tawar, bithynea iechi.

Hospes perantara kedua    :  ikan jenis idus dan tinca.

2.3.2. Morfologi

Ciri-ciri khusus :

  1. Ukuran : panjang 7-8 mm

Lebar 2-3 mm

  1. Bentuk lebih panjang atau langsing.
  2. Kutikula tertutup duri.
  3. Oral sucker lebih terminal. asetabulum pada 1setengah bagian tubuh depan (1/4 dari seluruh panjang tubuh)
  4. Besar oral sucker = besar ventral sucker.
  5. Sekum  panjang tak bercabang
  6. Testis berlobi miring satu sama lain
  7. Kelenjar vitelin S pada tengah badan.

2.4. Opisthorchis viverrini

2.4.1. Penyebaran

Ditemukan endemik di Thailand. Morfologi dan lingkaran hidupnya sama dengan O. felineus. cara infeksi makan ikan mentah mengandung mirasidium.

2.4.2. Morfologi

Perbedaan morfologi dari parasit ini dengan O. felineus adalah vitellarianya berkelompok-kelompok dan testis serta ovariumnya lebih besar ukurannya.

2.4.3. Gejala Klinik

Pada infeksi berat terjadi diare, rasa nyeri di ulu hati, dan icterus enteng, fibrosis periportal dari hati, terjadi peradangan pada saluran empedu dengan hyperplasi epitel.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Ada 4 jenis Trematoda Hati, yaitu:

  1. Clonorchis sinensis (Opisthorchis sinensis)
  2. Fasciola hepatica
  3. Opistorchis felineus
  4. Opisthorchus viverrini

Trematoda hati memiliki daur hidup, morfologi, patologi, gejala klinis, diagnosis, pengobatan dan pencegahan yang sedikit berbeda untuk setiap spesies cacing trematoda hati, tetapi ada pula yang sama.

3.2. Saran

Disarankan agar para pembaca boleh mengenal cacing-cacing hati ini agar bisa waspada sehingga terhindar dari parasit yang membahayakan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Þ          Safar Rosdiana. 2009. Parasitologi Kedokteran: Protozoologi Helmintologi

Entomologi. Bandung : Yrama Widya

Þ          Irianto Koes. 2009. Panduan Praktikum Parasitologi Dasar. Bandung : YramaWidya

Þ          http://en.wikipedia.org/wiki/Clonorchis_sinensis

Þ          http://www.felipedia.org/~felipedi/wiki/index.php/Clonorchis_sinensis

Þ           http://crocodilusdaratensis.wordpress.com/2010/08/18/clonorchis-sinensis-opisthorchis-sinensis/

Þ          http://crocodilusdaratensis.wordpress.com/2010/10/16/fasciola-hepatica/

Þ          http://id.wikipedia.org/wiki/Fasciola_hepatica

Þ           http://impact23.wordpress.com/2010/03/09/daur-hidup-fasciola-hepatica/